Mengenal Curling, Olahraga Strategi yang Dijuluki “Catur di Atas Es”

Teranara – Sekilas, olahraga curling mungkin terlihat seperti aktivitas mengepel lantai di atas es.

Namun di balik tampilannya yang sederhana, tersimpan perpaduan strategi, ketepatan, dan kerja sama tim yang kompleks.

Olahraga yang kerap dijuluki “catur di atas es” ini menuntut pemikiran taktis yang tajam serta koordinasi presisi di setiap gerakannya.

Curling adalah olahraga yang melibatkan peluncuran batu di atas permukaan es dengan tujuan memposisikan batu sedekat mungkin ke lingkaran daerah sasaran yang disebut house.

Cabang olahraga ini dimainkan di negara-negara yang memiliki iklim musim dingin.

Permainan berawal dari kebiasaan masyarakat Skotlandia pada abad ke-16 yang meluncurkan batu di atas permukaan danau yang membeku.

Dari kegiatan sederhana tersebut, curling berkembang menjadi olahraga kompetitif yang diatur dengan peraturan resmi dan akhirnya diakui sebagai cabang olahraga dalam Olimpiade sejak tahun 1998.

Hingga kini, curling berada di bawah naungan asosiasi bernama World Curling Federation (WCF) yang dibentuk pada tahun 1990.

Dalam permainan curling, dua tim yang masing-masing terdiri dari empat pemain saling bergantian meluncurkan batu granit seberat sekitar 17 hingga 20 kilogram menuju area house (target berbentuk lingkaran).

Poin diberikan kepada tim yang batunya paling dekat dengan posisi pusat house setelah seluruh batu diluncurkan dalam satu babak permainan.

Pertandingan curling biasanya terdiri dari sepuluh babak. Setiap pemain mendapatkan dua kesempatan untuk meluncurkan batu dalam satu babak.

Untuk batunya sendiri, batu curling memiliki pegangan yang memudahkan pemain menggelincirkannya dengan cara didorong ataupun diputar.

Selain itu, batu curling diberi warna berbeda untuk membedakan batu milik sendiri dengan batu milik lawan.

Sepatu para pemain pun dibuat khusus, dengan satu sol licin (slider) untuk membantu meluncur dan satu sol karet (gripper) untuk menjaga keseimbangan.

Tata cara permainan dalam olahraga ini terbilang cukup sederhana dan unik. Pemain yang bertugas sebagai peluncur batu hanya perlu menggelincirkan batu curling. Saat batu diluncurkan, dua rekan setimnya bertugas menyapu permukaan es menggunakan sapu khusus di jalur lintasan batu.

Gerakan menyapu ini berfungsi mengurangi gesekan, memungkinkan batu meluncur lebih jauh, serta mengontrol arah lengkungan atau curl.

Dalam satu babak permainan, masing-masing tim memiliki delapan batu, sehingga total terdapat 16 lemparan yang dilakukan secara bergantian.

Tim yang berhasil mengumpulkan poin terbanyak selama 10 babak akan menjadi pemenangnya.

Meskipun tampak sederhana, olahraga curling memerlukan latihan intensif dan pemahaman mendalam terhadap strategi permainan.

Dengan keseimbangan antara strategi, keterampilan, dan sportivitas, curling membuktikan bahwa olahraga tidak selalu tentang kekuatan fisik semata, tetapi juga kecermatan berpikir dan kerja sama tim yang solid.

Sumber:

  • rri.co.id – “Mengenal Olahraga Curling, Olahraga Musim Dingin Asal Skotlandia”- (7 Oktober 2025)
  • mediapijar.com -“Curling, Olahraga Meluncurkan Batu di Atas Permukaan Es” – (25 Desember 2021)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *