Teranara – Pada Minggu, 1 September 1968, Stadion Utama Senayan yang kini dikenal sebagai Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi lokasi sebuah pertunjukan yang tidak lazim duel antara manusia dan singa.
Peristiwa tersebut menghadirkan seorang pria bernama Bandot Lahardo sebagai penantang seekor singa di hadapan puluhan ribu penonton. Antusiasme masyarakat saat itu cukup besar, karena pertunjukan tersebut dipromosikan layaknya pertarungan gladiator.
Sejumlah laporan media asing, termasuk Reuters, menyebut Bandot dikabarkan pernah menaklukkan hewan buas tanpa senjata. Klaim tersebut turut mendorong panitia menghadirkannya dalam pertunjukan tersebut.
Majalah Tempo dalam arsipnya juga memuat pernyataan yang disebut sebagai bagian dari perjanjian antara Bandot dan panitia. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa apabila terjadi risiko fatal, pihak keluarga tidak akan menuntut penyelenggara.
Bandot Lahardo, yang disebut berasal dari Jawa Barat, dikenal sebagai pegulat dengan tinggi sekitar 172 cm dan berat 90 kilogram. Ia dikisahkan memiliki pengalaman menangkap hewan buas di masa mudanya.
Menurut laporan surat kabar Belanda Algemeen Dagblad edisi 3 September 1968, pertunjukan tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat, termasuk Menteri Luar Negeri saat itu, Adam Malik.
Awalnya, panitia dikabarkan menyiapkan seekor harimau. Namun, hewan tersebut disebut terlalu agresif sehingga akhirnya diganti dengan singa. Informasi ini juga beredar di sejumlah sumber sekunder dan arsip media.
Ketika pertunjukan dimulai, Bandot memasuki arena dengan bertelanjang dada dan mengenakan celana hitam serta ikat kepala. Arena pertarungan telah dipagari dengan kerangkeng besi untuk alasan keamanan.
Namun, duel yang dinantikan tidak berlangsung seperti yang dibayangkan penonton. Singa yang dilepas ke arena justru tampak berjalan memutar dan tidak menunjukkan respons agresif.
Majalah Tempo menggambarkan situasi tersebut dengan kalimat, “Dia hanya mengaum sekali lalu loyo bagaikan kucing malu menghadapi sang gladiator.”
Hingga sekitar 90 menit berlalu, pertunjukan tidak menghasilkan duel sengit sebagaimana yang dipromosikan. Bandot akhirnya meninggalkan arena, sementara sebagian penonton menyuarakan kekecewaan mereka.
Meski demikian, Bandot disebut tetap melanjutkan kariernya dalam pertunjukan gulat dan atraksi ekstrem. Sementara peristiwa duel di Senayan tersebut kemudian lebih banyak dikenang sebagai bagian dari sejarah hiburan ekstrem pada masa itu.
Peristiwa tersebut kini menjadi catatan unik dalam sejarah hiburan Indonesia, sekaligus gambaran bagaimana tontonan ekstrem pernah mendapat ruang besar dalam kehidupan publik pada masanya.
Sumber:
- historia.id – “Manusia Melawan Singa di GBK” – (24 Juli 2025)
- detik.com – “Keganasan Bandot Lahardo yang Bikin Singa Takut di GBK” – (05 Oktober 2023)
- goodnewsfromindonesia – “Kisah Bandot Lahardo yang Menantang Singa Bertarung Ala Gladiator di GBK” – (28 Februari 2024)

